📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Katakanlah Wahai Anakku
Oleh Arda Dinata
Suatu waktu, Umar bin Khathab mendorong anak-anak untuk berbicara di hadapan majelis orang tua guna menyampaikan pendapat dan gagasan. Umar berkata, “Terkait dengan apa turunnya ayat, Inginkah seseorang di antara kalian memiliki kebun kurma dan anggur (QS Al-Baqarah: 266)?”
Mereka menjawab, “Hanya Allah-lah yang tahu.” Maka, Umar ‘marah’ seraya mengatakan, “Katakanlah: tahu atau tidak tahu.”
Ibnu Abbas menjawab, “Dalam benakku ada sedikit pengetahuan itu, wahai Amirul Mu’minin.” Umar mengatakan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kamu merendahkan dirimu sendiri.”
Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu menggambarkan perumpamaan amal.”
“Amal apa?” tukas Umar.
Ibnu Abbas menjawab, “Seorang kaya yang melakukan kebaikan-kebaikan kemudian Allah mengutus kepadanya setan, lalu orang itu melakukan kemaksiatan hingga menghancurkan segala amal baiknya itu.”
* * *
Dialog di atas, sesungguhnya telah menuntun tiap orang tua agar membangun motivasi bagi anak-anaknya. Motivasi merupakan sebuah spirit yang harus kita sandarkan dalam setiap kehidupan anak-anak. Keberadaannya akan selalu dibutuhkan tak kala gairah perkembangan kehidupannya tersumbat oleh kerikil-kerikil kehidupan.
Motivasi, kata Muhammad Rasyid Dimas (2000), mempunyai peran besar terhadap jiwa anak dalam mewujudkan kemajuan aktifitas positif yang membangun, dalam menumbuhkan kemampuan dan dalam menyalurkan bakatnya. Motivasi juga akan mendukung kontinuitas kerja dan mendorong anak untuk maju.
Dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya, orang tua tentu memiliki cara yang berbeda-beda. Lebih-lebih hal ini didukung dengan pengalaman hidup orang tua yang berbeda-beda pula. Ada yang memotivasi secara material atau nonmaterial. Itu semua baik, sepanjang dilakukan secara tidak berlebihan. Landasan kewajaran dalam memotivasi anak ini kelihatannya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi. Sebab bila tidak, ia akan berdampak merusak pribadi anak itu sendiri.
Jadi, intinya tiap keluarga harus mampu membangun motivasi dalam hidupnya. Yang jelas, menyangkut cara dan teknis pendekatannya tiap orang tua lebih mengetahui kebiasaan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Harry S. Truman, “Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.”
Adapun cara mudah dan bisa dilakukan oleh tiap keluarga untuk menasehati anak lewat motivasi adalah dengan membelikan buku-buku. Dengan aktifitas membaca buku, seorang anak secara ilmiah akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dirinya. Dalam hal ini, Ibnu Abidin –seorang ulama besar—pernah bercerita kepada anaknya bahwa yang menyebabkan ia mengumpulkan buku-buku itu (yang tidak ada tandingannya) adalah karena ayahnya. Menurut Ibnu Abidin, ayahnya selalu membelikan buku yang diinginkannya. Ayahnya berkata, “Belilah buku yang kamu inginkan dan aku akan membayarnya. Karena kamu telah menghidupkan perjalanan hidup (sirah) para pendahulu kita. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai anakku.”
Akhirnya, untuk dapat menasehati anak lewat motivasi, mendorongnya agar maju, mampu mengaktualisasikan potensi pribadinya, dan menyalurkan bakatnya, maka biasakan anak kita untuk berani mengatakan sesuatu hal tentang kebenaran hidup sesuai dengan kapasitas dirinya. Dari sini, tentu orang tua harus mampu membimbingnya secara bijaksana dan proposional. Untuk itu, biasakan ada dialog pada keluarga kita. Dalam berdialog dengan anak, orang tua biasakan mengucapkan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kau rendahkan dirimu sendiri,” dengan suara lembut lagi penuh keakraban. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Oleh Arda Dinata
“Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.” (Harry S. Truman)
Suatu waktu, Umar bin Khathab mendorong anak-anak untuk berbicara di hadapan majelis orang tua guna menyampaikan pendapat dan gagasan. Umar berkata, “Terkait dengan apa turunnya ayat, Inginkah seseorang di antara kalian memiliki kebun kurma dan anggur (QS Al-Baqarah: 266)?”
Mereka menjawab, “Hanya Allah-lah yang tahu.” Maka, Umar ‘marah’ seraya mengatakan, “Katakanlah: tahu atau tidak tahu.”
Ibnu Abbas menjawab, “Dalam benakku ada sedikit pengetahuan itu, wahai Amirul Mu’minin.” Umar mengatakan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kamu merendahkan dirimu sendiri.”
Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu menggambarkan perumpamaan amal.”
“Amal apa?” tukas Umar.
Ibnu Abbas menjawab, “Seorang kaya yang melakukan kebaikan-kebaikan kemudian Allah mengutus kepadanya setan, lalu orang itu melakukan kemaksiatan hingga menghancurkan segala amal baiknya itu.”
* * *
Dialog di atas, sesungguhnya telah menuntun tiap orang tua agar membangun motivasi bagi anak-anaknya. Motivasi merupakan sebuah spirit yang harus kita sandarkan dalam setiap kehidupan anak-anak. Keberadaannya akan selalu dibutuhkan tak kala gairah perkembangan kehidupannya tersumbat oleh kerikil-kerikil kehidupan.
Motivasi, kata Muhammad Rasyid Dimas (2000), mempunyai peran besar terhadap jiwa anak dalam mewujudkan kemajuan aktifitas positif yang membangun, dalam menumbuhkan kemampuan dan dalam menyalurkan bakatnya. Motivasi juga akan mendukung kontinuitas kerja dan mendorong anak untuk maju.
Dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya, orang tua tentu memiliki cara yang berbeda-beda. Lebih-lebih hal ini didukung dengan pengalaman hidup orang tua yang berbeda-beda pula. Ada yang memotivasi secara material atau nonmaterial. Itu semua baik, sepanjang dilakukan secara tidak berlebihan. Landasan kewajaran dalam memotivasi anak ini kelihatannya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi. Sebab bila tidak, ia akan berdampak merusak pribadi anak itu sendiri.
Jadi, intinya tiap keluarga harus mampu membangun motivasi dalam hidupnya. Yang jelas, menyangkut cara dan teknis pendekatannya tiap orang tua lebih mengetahui kebiasaan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Harry S. Truman, “Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.”
Adapun cara mudah dan bisa dilakukan oleh tiap keluarga untuk menasehati anak lewat motivasi adalah dengan membelikan buku-buku. Dengan aktifitas membaca buku, seorang anak secara ilmiah akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dirinya. Dalam hal ini, Ibnu Abidin –seorang ulama besar—pernah bercerita kepada anaknya bahwa yang menyebabkan ia mengumpulkan buku-buku itu (yang tidak ada tandingannya) adalah karena ayahnya. Menurut Ibnu Abidin, ayahnya selalu membelikan buku yang diinginkannya. Ayahnya berkata, “Belilah buku yang kamu inginkan dan aku akan membayarnya. Karena kamu telah menghidupkan perjalanan hidup (sirah) para pendahulu kita. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai anakku.”
Akhirnya, untuk dapat menasehati anak lewat motivasi, mendorongnya agar maju, mampu mengaktualisasikan potensi pribadinya, dan menyalurkan bakatnya, maka biasakan anak kita untuk berani mengatakan sesuatu hal tentang kebenaran hidup sesuai dengan kapasitas dirinya. Dari sini, tentu orang tua harus mampu membimbingnya secara bijaksana dan proposional. Untuk itu, biasakan ada dialog pada keluarga kita. Dalam berdialog dengan anak, orang tua biasakan mengucapkan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kau rendahkan dirimu sendiri,” dengan suara lembut lagi penuh keakraban. Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Tags
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca
Tulis Komentar di Bawah ini!